Gudang Lawuh Dhe Widi Notoprajan

Makan Nikmat di Gudang Lawuh Dhe Widi Notoprajan, Yogyakarta

  • April 14, 2020

Kota Yogyakarta adalah kota kenangan bagi banyak orang. Sejarah, keahlian memasak, dan lanskap menjadi cerita tersendiri bagi banyak orang. Ini bukan pengecualian bagi saya, yang tampaknya terhubung dengan kota ini. Beberapa bangunan dari masa lalu yang dibumbui dengan spesialisasi kuliner lezat dari kota ini adalah bukti bahwa Yogyakarta adalah kota yang benar-benar layak untuk dikunjungi.

Salah satu tempat favorit saya adalah Ndalem Notoprajan. Tempat ini sendiri tidak jauh dari kompleks Keraton dan Taman Sari Yogyakarta. Saya sendiri lebih suka menggunakan angkutan umum Trans Jogja untuk sampai ke tempat ini.

Dari halte Terminal Bus Ngabean, saya hanya perlu berjalan sekitar 400m di sepanjang Jalan KH. Agus Salim menuju Masjid Kauman. Sebelum tiba di tempat itu, kita akan senang dengan berbagai toko yang menjual oleh-oleh khas Jogja dengan harga grosir, seperti T-shirt dan beberapa pernak-pernik. Ketika ada cukup uang, saya biasanya membeli beberapa kaus untuk dibawa pulang.

Nah, di antara bangunan komersial yang cukup padat, ada gang kecil dengan pohon besar yang cukup teduh. Ini adalah Ndalem Notoprajan, daerah yang dimiliki oleh pangeran Kraton Yogyakarta. Sayangnya, ketika saya sampai di sana, gedung itu ditutup dan tidak bisa dikunjungi oleh pengunjung luar.

Sebenarnya, bangunan ini sendiri terdiri dari beberapa kompleks. Pintu beratap joglo adalah penghalang antara kompleks permukiman bangsawan dan permukiman masyarakat umum. Bangunan-bangunan di kompleks ini diperkirakan telah dibangun sekitar tahun 1811 yang diserahkan oleh istana kepada Notoprojo Gusti Pangeran Haryo (GPH). Jadi dari sini tempat ini disebut Ndalem Notoprajan atau kediaman Pangeran Notoprojo.

Meski sedikit kecewa, tetapi saya tidak datang sia-sia untuk datang ke sini. Saya melihat banyak orang berkelahi di sebuah toko kecil di depan kompleks Ndalem Notoprajan. Ternyata, pos tersebut adalah salah satu pos legendaris di kota Yogyakarta. Apalagi kalau itu bukan warung nasi yang sangat sibuk.

Dilihat dari kejauhan, berbagai lauk yang sangat menggoda untuk dimakan sangat menarik. Ada jagung goreng, telur dan, tentu saja, tahu dan tempe yang diasinkan. Berbagai sayuran sangat menggoda.

Ada sayuran panas seperti menu utama, sayur daun pepaya, sup sayur, dan aneka sayuran lainnya dengan santan. Ada juga beberapa tuna dan pepes tuna yang disukai karena tidak mencobanya. Saya sendiri bingung harus mencoba menu mana. Akhirnya, saya memutuskan untuk memesan bacem tempe dan sup sayur saja.

Ternyata itu terasa hebat. Menurut kolega saya yang sering datang ke sini, si penjual punya resep sendiri untuk mengolah masakannya, terutama tahu dan tempe bacem. Sebagai orang di luar Yogyakarta, bahasa saya tidak terlalu suka rasa manis. Jika Anda bisa naik level, mungkin itu hanya level normal.

Nah, tahu dan tempe asap dari warung ini merespons keinginan saya. Tidak semanis tahu dan tempe bacem di tempat lain. Apa yang saya suka, kemiri dan ketumbar sebagai bahan dasar baceman terasa enak. Sayuran yang dijual juga rasanya enak di lidah. Meskipun beberapa dari mereka cukup pedas, menurut saya itu masih bisa ditoleransi.

Harga sayuran dan lauk di toko ini juga cukup terjangkau. Saya memesan sepiring nasi, tiga bacem tempe, sup sayur, sambal goreng dengan kentang, dan segelas teh panas senilai Rp. 11.000. Ketika saya membawa beras pulang yang berisi dua tahu asap, sambal goreng, dan mie kering, penjual hanya menghargai Rp. 8.000. Pada dasarnya, sangat dianjurkan untuk mencoba posting di kompleks Ndalem Notoprajan ketika Anda sedang berlibur di kota Yogyakarta.

Sambil ditemani angin sepoi-sepoi dan getaran kuno, mengisi perut Anda di warung resor Ndalem Notoprajan adalah kegiatan yang menyenangkan. Aktivitas yang bisa dicoba sebelum menjelajahi kompleks istana dan Taman Sari Jogja. Tertarik mencobanya?

Donni

E-mail : Donni@gmail.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*